Samar aku masih ingat buku pegangan yang menjadi awal perkenalanku dengan bahasa Inggris. Sampul buku itu didominasi lower case e—yang dalam bayanganku sekarang menyerupai karakter Pac-Man yang melahap benda-benda dalam film komedinya Adam Sandler—dengan latar belakang garis-garis horizontal. Warna sampulnya berbeda-beda, sesuai jenjang, dari 1 SMP sampai 3 SMA. Laman Google tidak membantu menemukan buku yang aku maksud, malah mengantarkan pada buku-buku tua yang semakin bikin baper. Namun, aku yakin anak sekolah era awal 90-an familier dengan buku itu, dengan alasan berbeda. Mungkin senang karena latihan-latihannya yang banyak atau sedih karena latihan-latihannya yang memang banyak. Aku termasuk yang pertama.
Bahasa Inggris pelajaran yang sangat berkesan bagiku, sampai-sampai aku ingat teks bacaan pertama dalam pelajaran Bahasa Inggrisku kelas 1. Judulnya “Nita’s Uniform”, dengan kalimat pertama, This is Nita. Bacaan itu menceritakan Nita yang mulai masuk SMP dengan seragam barunya. Pak Guru meminta kami menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Aku bisa menyelesaikannya, tetapi sebagian besar temanku jumpalitan kesulitan, kasak-kusuk mencari sontekan, putus asa, dan tampaknya pengalaman pertama itu menjadi benih kebencian mereka pada bahasa Inggris selamanya.
Selama SMP, aku memiliki guru Bahasa Inggris yang bermacam-macam. Dari guru sukwan yang mengajar sambil tak hentinya mengepulkan asap rokok di kelas satu, lalu guru senior serbabisa, yang selain mengajar Bahasa Inggris, juga mengajar Sejarah, Bahasa Jawa, dan PSPB di kelas dua, hingga guru muda lulusan D3 universitas terkemuka yang bisa menyanyikan lagu Scorpions dan menerangkan materi dengan sama memikatnya di kelas tiga. Guru terakhir inilah yang sangat memengaruhi minatku untuk mendalami bahasa Inggris, lewat perkenalan dengan majalah Times bekas di rumah beliau dan koleksi kamus beliau yang banyak.
Ahai, kamus. Aku tak terpikir memiliki buku setebal itu. Harganya pasti mahal, ribuan! Aku tahu di Pasar Wage ada yang jual. Beberapa kali aku mampir ke penjual yang menggelar lapaknya di emperan toko Koh Mbun (juragan cengkih, pemilik satu-satunya rumah bertingkat di kecamatan kami kala itu), bersebelahan dengan penjual jamu yang membawa ular, kerangka manusia, tangkur bajul, dan gambar-gambar ajaib. Namun, aku tidak melihat-lihat kamus, gentar dengan ketebalan dan tulisan setengah juta atau satu miliar pada sampulnya. Langsung kubayangkan, tentu harganya sangat mahal. Paling-paling aku hanya membuka-buka buku nyanyian tipis untuk melihat lirik lagu yang sering diputar di radio. Kadang aku membelinya, seharga seratus lima puluh rupiah, jika godaan untuk memiliki kumpulan teks lagu hits tidak tertahankan. Bagaimanalah aku mampu membeli kamus, sedangkan untuk sabuk imitasi kulit seharga seribu lima ratus rupiah saja, aku harus mencari dan menjual sepikul kayu bakar. Berapa pikul kayu bakar yang harus aku jual untuk memiliki kamus setebal itu?
Tahu rasanya mendambakan sesuatu tetapi tidak berdaya mewujudkannya? Rasanya seperti membuat gila. Setamat SMP, setengah mati aku ingin sekolah, tetapi apa daya biaya SMA negeri terlampau tinggi untuk kemampuan orang tuaku sedangkan untuk biaya SMP saja aku harus beberapa kali menjual kambing yang dulu kubeli saat mendapatkan beasiswa di kelas lima sekolah dasar. Maka, aku pun harus berdamai dengan kenyataan bahwa setamat SMP, aku, yang pernah menjadi murid SD teladan tingkat kecamatan, yang lulus dengan NEM yang termasuk tinggi untuk ukuran saat itu, harus turun ke sawah menjadi buruh tani, ke proyek konstruksi untuk menjadi kuli dan segala pekerjaan otot lainnya.
Nah, di sela hari-hari yang nyaris membuat gila itulah aku mulai menerjemahkan. Alat bantuku adalah Kamus Dua Ratus Lima Puluh Ribu yang aku pinjam dari seorang keponakan jauh. Kamus dua bahasa itu bersampul biru, dengan separuh depan untuk entri Inggris—Indonesia dan separuh belakang untuk entri Indonesia—Inggris, dengan halaman warna-warni sebagai pemisah di tengahnya yang memuat segala ilmu gramatika, kata kerja beraturan dan tidak beraturan, dan sebagainya. Aih, tentunya kawan tahu. Tidak tanggung-tanggung, proyek terjemahan perdanaku adalah novel sejarah tentang Ken Arok—dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris!
Jangan bayangkan proyek penerjemahan sungguhan. Sesungguhnya itu lebih menyerupai aktivitas unjuk rasa teredam sebagai ungkapan perasaan geramku karena tidak bisa bersekolah. Buku cerita yang kugarap itu memiliki teks di separuh bawah halaman kiri, dan gambar di seluruh halaman kanannya. Kuselipkan terjemahanku di separuh atas halaman kiri itu. Andai bisa kutunjukkan karyaku kepadamu, kawan, pasti kau akan tercengang dengan kecanggihan tata bahasa dan diksi yang aku gunakan kala itu. Kubocorkan satu saja yang terus membekas hingga kini ya. Aku kesulitan menemukan padanan untuk predikat kalimat: Ken Arok kecil mengikut ke mana pun bapaknya pergi berjudi. Aku cari lema “ikut” di kamus, dan voila, ternyata terjemahan bahasa Inggrisnya adalah take part in. Maka, kupakailah kata itu.
Makanya, ketika dua tahun kemudian muncul peluang untuk sekolah lagi, peluang itu kudekap sepenuh jiwa. Meski harus meninggalkan desa kelahiran, menempuh 180-an kilometer yang merupakan jarak terjauh yang pernah aku tempuh kala itu. Meski harus berjalan kaki empat kilometer nyaris setiap hari selama tiga tahun dari rumah orang tua asuhku ke sekolah. Meski harus bangun jam empat pagi setiap hari dan menangani segala tugas pembantu rumah tangga sebelum dan sepulang sekolah. Kebahagiaanku mendapatkan kesempatan untuk sekolah lagi mengalahkan segalanya. Tiga tahun kemudian aku lulus dan beralih profesi, kali ini sebagai petugas kebersihan di sekolah yang menawari pinjaman biaya kuliah. Aku manfaatkan itu demi mengejar impianku.
Ngomong-ngomong, sebenarnya mimpi tertinggiku saat itu adalah menjadi dosen. Konon, menurut guruku waktu kelas lima dahulu, dosen itu banyak uangnya. Mereka mengajar bukan para siswa melainkan mahasiswa, gajinya tinggi, bisa menjual materi perkuliahan yang disusunnya kepada para mahasiswanya, dan sebagainya. Pokoknya, bisa kaya. Hmm, siapa yang tidak tergoda!
Sejujurnya, kesukaanku pada bahasa Inggris saat itu belum membuatku memiliki bayangan untuk berkarier di bidang kebahasaan. Yang kupikirkan adalah karier di bidang fisika atau matematika, menjadi dosennya para calon insinyur, atau sejenisnya. Namun, setelah terbukti bahwa ilmu dasarku tidak mampu mengantarku mendapatkan satu kursi di jurusan teknik mesin di sebuah universitas negeri, aku mengerucutkan pilihan untuk mempelajari matematika murni saja. Dengan uang pinjaman dari SMA tempatku bekerja sebagai tukang kebersihan, aku mendaftar di sebuah universitas swasta.
Saat kelas tiga SMA, aku diajar oleh guru Matematika yang baik. Perempuan setengah baya yang masih lajang itu juga merupakan teman mengobrol yang asyik. Terkadang aku diundang ke rumahnya untuk menikmati kreasi kulinernya sambil mendengarkan lagu dari penyanyi yang sama-sama kami sukai: Elton John dan Julio Iglesias. Saat beliau tahu bahwa aku memilih jurusan Matematika, beginilah kurang lebih petuahnya, “Lihatlah saya. Ya begini ini saja pilihan karier sarjana Matematika. Mengajar, gak banyak pilihan. Tapi lihat itu si Okto, keponakan saya. Baru setahun dia lulus Bahasa Inggris, sekarang sudah bekerja di Chiyoda. Gajinya jauh di atas gaji saya. Tidak ingin seperti dia?”
Pertanyaan itu aku pertimbangkan dalam-dalam. Kuliah jurusan Bahasa Inggris. Menjadi dosen, setidaknya guru Bahasa Inggris. Bisa mengajar privat sambil kuliah. jika beruntung, bisa bekerja di perusahaan multinasional. Tampaknya menarik. Penerjemah? Belum terlintas saat itu. Dengan NEM EBTANAS yang nyaris sempurna untuk bahasa Inggris, tampaknya secara akademik aku tidak akan kesulitan kuliah. Tak tahu dari mana biayanya. Yang penting jalani dulu senyampang ada tawaran pinjaman biaya kuliah. Begitulah akhirnya, menjelang dimulainya penataran P4 pola pendukung 25 jam, aku bulatkan tekad untuk pindah jurusan: dari Matematika ke Bahasa Inggris.
Nah, sekarang aku menjadi mahasiswa (kutambahkan kata sifat dengan-biaya-utangan) Pendidikan Bahasa Inggris. Perkuliahanku rata-rata dimulai jam 7 pagi dan berakhir jam 1 siang, yang berarti aku bisa bertugas sebagai “Pak Kebon” sebelum dan setelah kuliah. Toh selama jamku kuliah dan selama gedung sekolah digunakan untuk belajar mengajar, peran Pak Kebon tidak begitu diperlukan. Untuk tempat tinggal, ada asrama yang disediakan untuk beberapa pekerja sepertiku. Biasanya, di malam hari kami tidur berpencar dan bergiliran tempat, antara ruang TU, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang perpustakaan, atau ruang lainnya sekaligus berjaga dari kemungkinan kemalingan. Tantangan terbesarku saat itu adalah mengelola keuangan, terutama antara untuk membayar SPP dan makan. Dengan gaji tujuh puluh lima ribu rupiah sebulan, di zaman ketika sebungkus nasi harus ditebus dengan minimal lima ratus rupiah dan SPP kuliah empat puluh ribu rupiah, aku harus memikirkan cara untuk menghasilkan uang. Dari situlah karier penerjemahanku ditakdirkan bermula.
Pada awal-awal kuliah, atas ajakan seorang teman, aku mengikuti kursus Microsoft Word (versi 6.0), aplikasi pengolah kata paling keren dan paling canggih kala itu. Temanku ini sudah lebih dahulu belajar dan bahkan mengajar di sana, sebuah lembaga kursus ternama yang menempati sebuah gedung dua lantai di sebelah stadion Universitas Brawijaya. Karena lokasinya yang bersebelahan dengan kampus besar, jasa yang ditawarkan lembaga ini beragam, dari kursus aplikasi, pengetikan, rental, hingga penerjemahan. Bisa dibilang one stop service untuk segala kebutuhan terkait komputer yang masih merupakan barang sangat mewah saat itu.
Kami, mahasiswa Bahasa Inggris semester satu, memberanikan diri mengambil bagian untuk layanan penerjemahan itu! Kliennya adalah para mahasiswa yang membayar dua ribu lima ratus rupiah per halaman jadi. Setelah dipotong iuran oleh lembaga, kami menerima dua ribuan rupiah per halaman. Terkadang ada mahasiswa, yang karena ingin menghemat biaya, meminta hasil terjemahannya ditulis tangan. Tarifnya tentu lebih murah karena pengerjaannya tidak perlu komputer. Aku bekerja di malam hari sambil menjaga sekolah, memanfaatkan kamus di perpustakaan. Awalnya, pekerjaan ini berjalan lumayan lancar. Namun, saat jumlah pesanan yang tidak diambil semakin menumpuk, aku kehilangan kepercayaan pada profesi ini. Ternyata, tidak ada jaminan pekerjaan yang telah diselesaikan akan berujung pada imbalan finansial! Salah kami juga karena tidak meminta uang muka sebagai pengikat klien.
Bagaimana kualitas terjemahanku? Aku tidak tahu. Para mahasiswa klien kami tidak pernah memberikan umpan balik. Namun, cerita pertamaku menerima umpan balik menjadi pengalaman berkesan.
Saat itu aku sudah semester enam, sudah menyelesaikan mata kuliah Translation I, II, dan III yang diajar oleh seorang profesor penerjemahan. Suatu hari, seorang dosen mengundangku untuk datang ke kontrakannya. Beliau mengajar penerjemahan di kelas sebelah, tetapi mengenalku melalui sejumlah mata kuliah lain yang diampunya. Selain sebagai dosen PNS, beliau membuka usaha penerjemahan yang dijalankan bersama beberapa rekan. Aku tidak tahu motif beliau memberiku pekerjaan, sedang kelebihan order atau sekadar ingin mengukur kemampuanku. Yang pasti, beliau membekaliku pulang dengan beberapa lembar teks dari sebuah buku manajemen. Pesan beliau, kalau terjemahanmu bagus, saya bayar. Kalau tidak, ya tidak saya bayar.
Tidak ada yang sulit dengan teks itu, tidak jauh beda dengan teks-teks lain yang sesekali aku kerjakan selama ini. Aku menyelesaikannya tanpa banyak kendala dan tepat waktu. Dengan kepercayaan diri tinggi, aku antarkan hasil terjemahanku ke rumah Pak Guru (biarkan aku menyebut beliau seperti itu) sesuai tenggat yang diberikan. Beliau memintaku menunggu kabarnya beberapa hari lagi. Kubayangkan, honor per halaman yang akan aku terima. Mudah-mudahan lebih tinggi daripada yang aku terima dari teman-teman di rental yang biasanya menggunakan jasaku, pikirku. Anggaplah, bisa mendapat empat ribu rupiah dan aku sanggup menyelesaikan sekurangnya sepuluh halaman jadi yang aku selesaikan. Empat puluh ribu. SPP satu bulan atau setidaknya bisa makan kenyang dua minggu ke depan.
Beberapa hari kemudian, saat suasana lengang aku mendekati beliau di kampus. Tanpa aku mengatakannya pun beliau tahu niatku dan tanpa banyak pengantar, beliau mengatakan,
“Pekerjaanmu belum bagus.”
Serius, Pak? Bapak mengerjai saya, ya? Salahnya di mana, Pak? Teks itu gampang kok. Tidak dibayar? Haloo … sebenarnya Bapak ngerti nerjemah enggak, sih? Mungkin begitulah segala macam reaksi kurang ajar yang berkelebatan dalam benakku dan ingin disuarakan saat itu. Bayangan uang empat puluh ribu yang berubah menjadi uap itu sungguh menyesakkan. (Di tahun-tahun berikutnya, Pak Guru ini sering mengucapkan aja njagakne endhoge si blorok, seakan ingin menyindir kepandiranku kala itu.) Namun, aku harus menerima kenyataan itu sebagai pecut untuk belajar lebih keras. Ah, jangan-jangan kualitas rendah pula yang membuat para mahasiswa dulu tidak mengambil pesanan terjemahannya yang telah jadi. Saat itu aku semester satu dan bahkan sekarang di semester enam pun aku belum mampu!
Semester ketujuh, aku berhenti menjadi Pak Kebon. Dengan berlanjut mengajar privat dan kursus bahasa Inggris, serta sesekali menerima terjemahan dari rental komputer, aku bisa membayar kos dan membiayai hidup dengan sangat sederhana. Aku pikir ini adalah sebuah kemajuan. Perubahan tempat tinggal dan “kebebasan” baru itu membuatku lebih leluasa bereksplorasi. Aku juga sempat bekerja sebagai penunggu rental komputer, sekaligus menjual jasa pengetikan dan penerjemahan. Begadang hingga dini hari menunggui penyewa komputer, mengutip dua ratus lima puluh rupiah untuk jasa pengetikan per halaman, dan empat ribu rupiah untuk terjemahan satu setengah spasi kuarto adalah warna hari-hariku.
Suatu hari di akhir semester ketujuh tahun 1999, seusai UAS Sociolinguistics, Pak Guru (beliau ini multispesialisasi, dari mengajar Translation, hingga Business Correspondence, hingga Sociolinguistics, yang menggambarkan kapasitasnya yang luar biasa) memanggilku. Beliau memintaku untuk datang (lagi) ke kontrakannya. Di sana, aku bertemu seorang lelaki yang kuperkirakan berusia akhir 30-an, jangkung, kurus, dengan wajah yang memancarkan kecerdasan, sedang menerjemahkan dengan ditulis tangan. Namanya Pak Radja. Bahasanya akrab dan gayanya hangat. Ternyata beliau mahasiswa S3 dari Sumatra, teman seangkatan dan sahabat Pak Guru saat menempuh S2. Pak Radja kos di Malang dan di luar jam kuliah menerima jasa penerjemahan bersama Pak Guru melalui lembaga yang dinamai SGH-PR.
Di rumah itu hanya ada satu komputer dan tugasku adalah mengetik terjemahan tulisan tangan kedua penerjemah hebat itu di MS Word. Terkadang ada juga penerjemah ketiga dan keempat. Mereka semua sama hebatnya. Aku sangat beruntung bisa belajar melalui hasil terjemahan mereka; mempelajari bagaimana teks bahasa Inggris ditransfer menjadi teks bahasa Indonesia yang luwes oleh beliau-beliau semua. Pengalaman itu membuka mataku bahwa aku belum ada apa-apanya! Aku masih merangkak; mereka sudah berlari. Sekarang aku mendapatkan ilmu langsung dari orang-orang hebat ini, tanpa membayar bahkan dibayari. Ya, di akhir bulan, aku menerima amplop dengan isi terbesar yang pernah aku terima seumur hidupku: TIGA RATUS RIBU RUPIAH. Itu adalah sejarah!
Pada perkembangan selanjutnya, SGH-PR bertransformasi menjadi ITRS, dengan penerjemah yang lebih banyak dan pasar yang berbeda. Klien utamanya adalah perusahaan migas multinasional yang berbasis di Riau. Tugasku pun berkembang dari sekadar tukang tik menjadi pemantau surel, pengambil faks (di warnet sekitar lima ratus meter dari rumah), pembagi dan pencatat pekerjaan, pembuat invoice, dan tukang tik. Hampir semua permintaan dari klien ini adalah penerjemahan dari bahasa Indonesia ke Inggris yang diterbitkan untuk buletin perusahaan. Sesekali Pak Guru memberiku kesempatan untuk mencoba menerjemahkan, yang aku jalani dengan sangat tertatih-tatih dan dengan (salah) satu kekeliruan yang membekas hingga sekarang: salah menerjemahkan tribune menjadi tribunal.
Setelah ITRS surut, aku tetap belajar pada Pak Guru dan bekerja dengan peran yang semakin signifikan. Beberapa penerjemah ITRS telah mengundurkan diri dan nyaris hanya menyisakan Pak Guru dan sahabat jangkung kurusnya yang aku kenalkan tadi. Melalui “rapat strategis”, akhirnya diputuskan untuk meneruskan napas di bidang penerjemahan dengan menyasar penerbit buku, dengan biduk baru yang bernama Translanguage (surelnya dapat diakses @telkom.net dengan koneksi kosong delapan kosong sembilan delapan sembilan empat kali, telkomnet instan). Seratus sepuluh surat aku kirimkan ke penerbit di Pulau Jawa, melamar menjadi penerjemah buku. Tiga di antaranya membalas dan dua memberikan pekerjaan.
Sejarah kemudian mencatat peranku sebagai penerjemah buku Health Fitness for Life. Ada nama Sugeng Hariyanto, Patuan Radja, dan Sukono sebagai penerjemah di sampul dalamnya. Luar biasa! Karya berikutnya menyusul sambung-menyambung, rata-rata dua buku setiap tiga bulan dengan berbagai tema. Honornya lumayan untuk ukuran masa itu, tujuh ribu lima ratus rupiah per halaman asli (terlepas ada gambarnya atau teks seluruhnya). Dari honor tersebut, beberapa minggu sebelum wisuda aku bisa melunasi pinjaman biaya perkuliahanku dulu. Dengan honor itu pula, beberapa bulan setelah wisuda, aku berani melamar dan menikahi teman perempuanku, yang selama itu meminjamkan komputer bertenaga processor Cyrix RAM 16 MB HDD 32 MB-nya untuk keperluan kerjaku.
Dari belasan buku yang pernah aku terjemahan, yang paling berkesan adalah buku tentang merger dan akuisisi. Bukan karena temanya, melainkan karena romantika dalam pengerjaannya. Beberapa bab dari buku itu aku terjemahkan dengan tulisan tangan di atas kertas folio bergaris, beralaskan dipan kosong di sebuah kamar rumah sakit bersalin. Di dipan sebelahnya, terbaring istriku yang baru melahirkan anak pertama kami.
Bab hidupku selanjutnya adalah pengalaman satu setengah tahun menempuh S2 di Australia. Selama kurun tersebut, jika tidak sedang sibuk dengan tugas perkuliahan, aku meminta kiriman teks untuk diterjemahkan. Pak Guru akan memindai bab-bab buku dan mengirimkannya lewat surel (setelah di-OCR/dikonversi ke MS Word untuk mengurangi ukuran file, karena internet masih mahal), dan aku mengerjakannya di luar jam kuliah. Tampaknya aku sudah sangat mencintai profesi ini. Sebentar, lalu cita-citaku menjadi dosen? Sebenarnya sebelum ke Australia aku sudah mengajar kecil-kecilan di beberapa tempat. Setamat S2, aku menjadi dosen tetap yayasan sebuah universitas swasta di Malang. Namun, di luar kampus, penerjemahan tetap menjadi aktivitas (dan penyumbang anggaran rumah tangga) utama. Aku menjalani hidup sebagai a full-time teacher and part-time translator tersebut hingga penghujung 2007.
Tahun 2004, aku membawa keluargaku kembali ke Malang dan mendapati kenyataan bahwa kontrakan yang dicarikan adikku sebelum aku pulang amatlah standar. Rumah kecil itu setengah tidak terawat, dengan dapur yang akan banjir saat musim hujan mencapai puncaknya. Setidaknya bocor parah. Lantai kamar mandinya yang hanya dilapisi plester semen kasar berwarna cokelat kehitam-hitaman, dengan tembok yang dipenuhi jamur. Sama sekali tidak menggugah keinginan untuk mandi. Bahkan, pada hari-hari pertama di sana, anakku menolak masuk kamar mandi. Pengalaman getir itu menjadi pendorong semangatku untuk segera memiliki rumah sendiri yang lebih layak. Berawal dari situasi inilah, aku mendapatkan gelar nonakademis, tak-resmi, lainnya dari Pak Guru: SpG (Speedy Gonzales). Begini ceritanya.
Selama aku menempuh S2, ternyata Pak Guru berhasil mengangkat Translanguage ke tingkat yang lebih baik hingga menembus pasar internasional berkat rujukan dari para penerjemah yang telah lebih dahulu mapan dan mendapatkan proyek-proyek dengan bayaran dolar. Indikator ekonomi beliau juga tampak membaik. Saat pertama kali aku berkunjung sepulang dari Australia, beliau telah menempati rumahnya sendiri yang cukup asri. Ada Daihatsu Zebra edisi 1991 warna cokelat tua di garasinya. Bahkan, saat aku memasuki kamar yang dijadikan kantor, telah ada seorang staf yang cakap mengatasi hardware dan software komputer (sekarang dia sudah memiliki lembaga penerjemahan besar dengan belasan penerjemah).
Saat itu, sedang berlangsung proyek penerjemahan besar—pelokalan sebuah situs mesin pencari ke dalam bahasa Indonesia. Jumlah katanya sangat banyak, dan dikerjakan dengan alat yang masih sangat asing bagiku. Trados namanya. Alat ini berjalan di MS Word dan mampu menyimpan hasil terjemahan ke dalam translation memory-nya. Pak Guru mengajariku sebentar dan ternyata tidak terlalu sulit. “Tapi hati-hati, jangan menghapus tag,” sambil menunjuk simbol lebih kecil dan lebih besar warna ungu yang mengapit sebuah karakter di tengahnya, “atau kamu tidak akan bisa berpindah segmen.”
Tarif pekerjaan itu empat sen dolar per kata. Itulah pertama kalinya aku mendapati penerjemahan yang dibayar per kata. Sekali lagi, itu adalah sejarah. Dari tarif tersebut, dua setengah sennya diberikan kepadaku sebagai penerjemah. Aku bekerja seperti orang kalap. Mumpung ada bayaran setinggi itu. Mumpung yang perlu dikerjakan berlimpah. Kapan lagi ada kesempatan yang bisa mengantarkan pada impian memiliki rumah sendiri. Aku menerjemahkan rata-rata sepuluh ribu kata per hari! Kubayangkan kali ini, dua juta lima ratus rupiah per hari (ini beda dengan endog blorok yang dulu).
Selama berminggu-minggu, aku tancap gas menerjemah cepat. Secepat Speedy Gonzales menghindari Sylvester el Gato atau dalam kasusku, menghindari deadline membayar kontrakan. Akhirnya, dengan segala susah payahnya, pada tahun 2005, kami memiliki rumah kecil berukuran 5×15 meter di tengah perkampungan yang padat.
Pengalaman menjadi mahasiswa di universitas luar negeri yang menuntut interaksi dalam bahasa Inggris nyaris sepanjang waktu ternyata berguna dalam mengasah pemahaman saat dihadapkan pada aneka teks yang harus diterjemahkan. Aku merasa lebih sigap memahami teks. Selain itu, kecintaanku pada ilmu alam selama di SMA berperan penting dalam tahap karier penerjemahanku selanjutnya—setidaknya aku memiliki dasar untuk memahami teks-teks dalam ranah biologi, fisika, dan kimia. Memang benar, tidak ada ilmu yang tidak berguna. Berbekal penguasaan bahasa Inggris yang lumayan dan ditambah dengan kesukaan pada berbagai bidang, aku mampu menerjemahkan dalam aneka disiplin.
Begitulah, pada tahun-tahun selanjutnya, aku menjadi penerjemah utama di Translanguage. Dan seiring kesibukan Pak Guru dengan aneka pekerjaan di kampusnya, tugasku di Translanguage pun tidak berhenti pada menangani pekerjaan dari klien yang telah ada, tetapi juga mencari klien baru. Aku mengerjakan aneka tes dari calon pemberi kerja, juga menjadi mentor bagi tenaga-tenaga muda yang bergabung dengan Translanguage yang semakin berkembang. Pekerjaan ini semakin mengasyikkan saja bagiku dan, secara finansial, tampaknya lebih mampu menopang keluargaku di masa depan. Ditambah dengan aneka bumbu yang menyedapkan suasana pada waktu itu, akhirnya pada akhir 2007 aku memutuskan berhenti menjadi dosen dan menggeluti penerjemahan secara purnawaktu. Pekerjaan impianku saat kecil kutinggalkan. Saat aku memperbarui KTP pada tahun 2009-an, mungkin aku merupakan satu dari sedikit orang pertama di Malang yang mencantumkan “penterjemah” (di KTP adanya “penterjemah”, bukan “penerjemah”) sebagai pekerjaannya.
Sepuluh tahun kemudian, jika dihitung sejak aku menginjakkan kaki di kontrakan Pak Guru (kunjungan kedua), yang menjadi awal keterlibatanku dalam penerjemahan profesional, berarti tujuh belas tahun sudah aku menggeluti bidang ini. Aku belajar mengais rezeki sendiri dengan meninggalkan Translanguage (yang bertransformasi menjadi TransBahasa) pada tahun 2010. Sejak saat itu aku menanggung sendiri semua suka duka menjadi penerjemah lepas. Bila diukur dari segi materi, apa yang aku peroleh dari menerjemahkan telah melampaui segala impian terliarku saat kanak-kanak. Namun, lebih daripada itu, yang paling aku syukuri dari menjadikan pekerjaan ini sebagai sandaran hidup adalah kesempatanku untuk bekerja dengan tetap dekat dengan keluarga. Aku bisa bermain dengan anak nyaris sepanjang waktu, juga meluangkan waktu untuk istri nyaris kapan pun dia memerlukanku.
Seperti penerjemah lepas pada umumnya, aku menikmati kebebasan untuk bekerja kapan pun dan di mana pun. Selagi ada komputer dan internet; selagi bisa memenuhi tenggat waktu. Bahkan di rumah orang tuaku nun jauh di desa sana, di lereng bukit yang pada masa kecilku masih penuh hutan tempat aku mencari pakan kambing, aku bisa menerima, menangani, dan mengirimkan pekerjaan. Luar biasa! Terlebih, aku menggeluti pekerjaan yang memang aku sukai dan yang memberikan imbalan dengan sangat pantas. Jadi, nikmat apa lagi yang hendak aku ingkari?
Mungkin terlalu klise mengatakan bahwa kualitas adalah segalanya, tetapi memang itulah mantra untuk bisa mendapatkan dan mempertahankan kepercayaan klien. Aku menerjemahkan kualitas itu ke dalam tiga kata sifat yang aku anggap mewakili karakteristikku bekerja: Swift, Eloquent, On-time (SEO). Dengan swift, aku berjanji kepada klien untuk tidak membuang-buang waktu mereka dengan menantikan kabar apakah pekerjaan yang ditawarkannya bisa aku tangani atau tidak. Intinya, aku menjadikan respons tercepat—biasanya dalam waktu kurang dari 30 menit—untuk mempelajari dan memutuskan sanggup tidaknya memberikan layanan sesuai spesifikasi yang diharapkan. Eloquent berarti aku menjanjikan kualitas terjemahan yang luwes dan enak dibaca. Untuk itu, aku membatasi diri untuk hanya mengerjakan naskah yang memang aku kuasai (meskipun seiring meningkatnya paparan dan pengalaman kerja, batas-batas itu semakin meluas). Dan untuk mencapai keluwesan itu aku harus mau memikirkan teks secara mendalam, melakukan riset pada hal-hal yang kurang jelas, melakukan penyuntingan—pokoknya memberikan totalitas. On-time berarti aku menjanjikan pengiriman hasil secara tepat waktu dan tidak meminta extra time pada saat-saat akhir. Untuk itu, perhitungan waktu saat menentukan atau menyepakati tenggat harus realistis.
Dengan berpegang pada ketiga prinsip itu setidaknya aku mampu bertahan dalam sengitnya bisnis penerjemahan hingga sekarang. Sampai kapan? Allah yang tahu. Satu setengah tahun terakhir ini aku juga kembali ke kampus untuk melatih dan membimbing mahasiswa di bidang penerjemahan, sebagai bagian dari, meminjam istilah seorang selebriti penerjemahan Indonesia, personal social responsibility atau PSR-ku. Meski terkadang kewalahan antara menyiapkan materi mengajar dan mengejar deadline, tantangan ini tetap menarik. Berinteraksi kembali dengan mahasiswa setelah hampir sepuluh tahun meluangkan nyaris seluruh waktu untuk berinteraksi dengan komputer, ternyata menyegarkan.
(Tulisan ini dapat ditemukan dalam buku “Bersilat di Rimba Kata”.
⸙ ⸙ ⸙
Lahir di Trenggalek tahun 1976, Sukono adalah lulusan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma, angkatan 1996. Setelah menyelesaikan jenjang Master dan beberapa tahun mengajar di almamater S1-nya, dia memutuskan untuk menggeluti penerjemahan sebagai pekerjaan purnawaktu. Bergabung di TransBahasa (sekarang TransKomunika) sejak 2000, penerjemah yang juga penikmat film ini sekarang memandu sebuah tim penerjemah yang dinamai Alima Language di Malang.